Siapa bilang saya merokok dari dewasa. Saya merokok pada usia saya masih berumur lima tahun. Awal mula mulai tertarik akan rokok ketika acap kali melihat orangorang dewasa disekeliling saya merokok. Orangorang yang sedang asyik menghibur diri dengan asap yang dihembuskan depan mukanya dari mulut dan lubang hidungnya dengan pelan. Terlebih lagi, disetiap pagi saya melihat bapak merokok dengan segelas kopi yang menjadi temannya sambil melamun.
Pernah saya tanyakan kepada bapak dan meminta rokok kepadanya, dengan dalih entah dari mana dan masih saya ragukan ke sartirannya dia menyebutkan.
"rokok itu tidak baik,tidak sehat untuk anakanak "
Tentu menjadi tanda tanya bagi saya, sebatang tembakau yang di hisap mulut menggeluarkan asap yang menggepul itu apa hanya baik bagi orang dewasa?. Dan orang dewasa sajakah boleh mengehembuskan sambil menyeruput kopi?. ah sudah lah saat itu saya tidak mau disebut anakanak lagi, meskipun masih minta uang jajan sama orang tua.
Tidak hanya saya, bahkan saudara kandung lelaki saya sekalipun sudah ketagihan juga dengan rokok saudara sepupu saya juga demikian. kami tahu, jika uang jajan yang kami dikumpulkan bertiga, sangatlah cukup untuk membeli rokok ke kedai dekat rumah. Jika kami lakukan, itu sama saja bunuh diri. Menghantarkan nyawa kepada pemilik warung dan pemilik warung akan mengadukan ulah kami kepada algojo (bapak) yang akan mengeksekusi hasil dari perbuatan kami. Kebanyakan warga kampung saling mengenal dan saling mengetahui satu sama lain. Si ini anaknya si a, si ini anak nya si b, sangatlah mudah bagi mereka mendeteksi anakanak kecil seperti kami di sekelliingan kampung. Begitulah romantisnya hidup dikampung.
saya dan saudarasaudara saya akhirnya menemukan cara untuk merokok dengan melipat kertas buku, membakar lalu mengisapnya di balik balik batang kayu manis di tepian kolam ikan kepunyaan nenek saya. Bukan kenikmatan yang kami dapati tapi malah batuk yang menjadijadi. Sehabis mengisap, saya dan dua saudara saya cepatcepat menggosok gigi supaya tidak ada orang dewasa mengetahui bau asap dari mulut kami.
Hari berikunya sehabis makan malam. Dengan laluk pauk yang sudah dimasakan oleh mandeh. Kami menyantap habis sambal goreng berisi jengkol dan terong. usai makan kami masuk kekamar dan berbagi cerita. Disana ada saya dan saudara sepupu saya. Aldopun membuka suara.
"Konon katanya moment yang tepat untuk menghisap rokok adalah setelah makan."
Saudara lakilaki saya mengiyakan pendapat aldo, sayapun dengan rasa penasaran juga termakan pendapat mereka berdua. Namun dimana kami bisa mendapatkan rokok dan menghisapnya malam ini juga?. Cheri saudara lakilaki saya tertawa riang seperti mendapatkan sebuah petunjuk.iaenjabarkan strategi yang ada dalam kepalanya. dan segera membagi tugas. Dia mengambil beberapa batang rokok bapak yang berada di atas tv dengan menyelinap saat ruang tengah itu sedang sepi, sepupu saya, si aldo mencari korek kerumahnya yang dekat dengan rumah kami untuk membakar rokok selundupan, sedangkan tugas saya adalah mencari tempat paling aman untuk merokok pada malam hari tanpa diketahui oleh orangorang dewasa.
Masing masing melaksanakan tugasnya. Saya keluar dari rumah dan berjalan mencari tempat ternyaman untuk menghabiskan daun tembakau bergulung. Saya melihat tempat kelam yang tak mungkin akan ada orang dewasa pada malam hari masuk kedalam sana. Sesuai fungsinya kandang ayamlah nama tempat itu. di bawah rumah gadang yang sudah mulaih lapuk dan dibawahnya adalah tempat mengandangi ayamayam milik paman. Saya kembali berdiri dipinggir teras rumah menanti aldo dan chery menyelesaikan tugasnya. Tak berapa lama, kami berkumpul di pinggir teras dengan suara berbisik, Saya lansung membawa mereka ketempat teraman yang telah saya temukan.
"Serius, kandang ayam ?"
“silahkaannn...”
Saya menganggukngangguk sambil tersenyum kearah mereka berdua. Kamipun mulai memasuki kandang ayam dengan hatihati dengan memperkecil langkah kaki supaya tak banyak suara yang dihasilkan ketika kami melangkah. Pada saat sudah didalam Mulailah Cheri membagikan rokok satu per satu kepada kami. Dan secara bergantoan menyulutkan api korek dari aldo saudara sepupu saya.
Di dalam gelapnya malam dan kelamnya kandang ayam, yang terlihat hanyalah api merah rokok berkunang kunang dekat dengan mulut. Segala bau kotoran ayampun kami hirup bersamaan dengan bau asap yang keluar dari kedua lubang hidung dan mulut. Akhirnya setelah berapa lama rasa penasaran saya dengan rokok terobati juga. Bagi saya ini adalah pertama kali saya merasakan nikmatnya setiap hisapan rokok dan dibuang asapnya keluar dengan santai. Sedangkan bagi mereka berdua ini adalah pengalaman kesekian, alhasil mereka lebih lihai menghisap rokok dan sesekali tertawa kecil melihat saya merokok.
Seketika, saya tak sengaja menginjak kaki ayam betina. Membuat induk ayam teriak berkotek. detakan jantung 3 anak kecil berdebar bukan karena rokok tapi lebih kepada takut ketahuan orang dewasa. Kamipun riuh dan mencari cara berusaha menenangkan ayam yang tak terlihat pada kelam malam didalam kandang ayam dengan perasaan waswas.
Suara sendal jepit nikkan terdengar dari arah rumah yang semakin lama semakin dekat bunyinya dengan kami. Pintu kandang lupa ditutup, seiring langkah kaki mendekat, kami perlahan lahan mematikan api rokok. Masing masing dari kami berjalan pelan menuju balik tiangtiang kandang, yang bisa dijadikan tempat sembunyi yang manjur dalam ruang gelap tersebut. Kami menahan nafas dan membuka sendal supaya tak ada langkah kaki terdengar. Tidak apaapa menginjak kotoran ayam, toh nanti bisa dicuci lagi.
Di balik samar samarnya lampu kearah kami. Saya melihat bayangan lakilaki tersebut dari lubang lubang kecil di lipatan bambu kandang ayam. Bayangan itu hanya berdiri tergak disana, tanpa gerakan. tak lama barulah ia beranjak, dan suara kakinya menjauh. jantung saya yang semula degdegan kencang kini perlahan kembali normal.
"Lagi tidak nih, masih ada sisa " ujar cheri saudara lakilaki saya.
Serempak saya dan aldo bilang tidak. kami bertiga akhirnya sepakat memutuskan untuk kembali ke halaman perkarangan rumah, saudara sepupu saya pamit pulang kerumahnya yang tak jauh dari rumah kami sedangkan saya dan saudara saya berjalan ke teras rumah membuka pintu.Dan masuk.
Seorang pria bersarung sedang duduk diruang tamu. dia bapak saya, menatap saya dan saudara saya seperti ada sesuatu yang hendak ia sampaikan. saya dan saudara saya berjalan santai menuju kamar tidur kami diruang tengah dengan tenang.
"Berdiri disana !"
Langkah terhenti. ia mendekati kami berdua yang saat itu keringat dingin saya mulai mencucur sedangkan saudara saya dengan sangat polosnya berdiri seperti tak ada masalah terjadi. Bapakpun beranjak dari kursi lalu berdiri dihadapan kami dan mencium bau aroma disekitar kedua mulut anaknya.
"Tunggu sebentar"
Bapak masuk kedalam kamarnya. Saya dan cheri sudah tahu siasat ini, ulah kami telah terbongkar rupanya. Sebagai anakanak yang kekanakkanakan kami saling salah menyalahi tentang siapa yang menghasut terlebih dahulu. Bapak kembali dari kamarnya menuju ruang tengah membawa ikat pinggang yang biasa ia pakai untuk bepergian dengan celana jeansya.
kali ini Ikat pinggang bukan ikat pinggang yang sesuai penggunaannya, melainkan nyaris mirip fungsinya dengan tali pelecut. Bapak melipat dua ikat pinggangnya menatap kami dan melecut pelan tangan kirinya. hanya ada dua pilihan yang bapak tawarkan kepada saya dan saudara lakilaki saya.
"Mau ikat pinggang atau kamar mandi"
Saudara lelaki saya mencoba bernegosiasi.tapi tak guna. Jelas apa yang telah kami lakukan adalah kekhilafan yang terencana dan tentu salah kami sepenuhnya.
Ketimbang dilecuti dengan ikat pinggang yang membuat badan dan kakikaki kami pedih kena barang yang terbuat dari kulit sapi. Saya dan kakak saya akhirnya dengan pasrah dan rasa bersalah stuju dengan opsi kedua (kamar mandi).
Sejak saat itu saya tak mau menghisap rokok lagi, maksud saya menghisap rokok hasil curian lagi yang menyebabkan saya harus mendekam dikamar mandi, berendam dalam bak mandi malammalam, membuat saya mendingin mengigil seluruh badan.
Komentar
Posting Komentar