Langsung ke konten utama

Makna Perempuan

Sudah semestinyakah prempuan lebih tinggi derajatnya daripada laki laki? Mulai dari kandungan sampai lahir dialami semua suka dukanya oleh prempuan.

Saya memang salut dengan makhluk tuhan satu ini. Tapi ada satu hal yang belum saya temui jawabanya, Bukan dari melahirkanya, melainkan diantara mereka yang sudah berumah tangga banyak yang juga turut andil menjadi tulang punggung keluarga. beberapa kali pertanyaan saya lontarkan satu pertanyaan sakral ke sahabatsahabat terdekat saya. pertanyaan itu cuman satu.

"Bro di keluargamu yang menjadi tulang punggung siapa?"
"ibuku deel"

"Cuy di keluargalu yang banyak pendapatanya siape?"
"emak gua bapak gua lagi gak kerja"

"Nco di kluarga nco nan banyak bakureh sia nco?"
"omak wak nco, lah agak rabun ntuak bakojo"

"Ndes neng omahmu sing akeh golek rejeki sopo ndes ?"
"ibuku, bapakku wis sakitsakitan."

Nyarisssss 70% temanteman dekat saya menjawab ibunya. Saya tidak menyangkal hal itu, bahwa peran perempuan sangatlah kuat. Sayapun senasib dengan mereka, yang jadi pertanyaan bagi saya adalah "kenapa hal ini bisa terjadi ?". Sebagai lakilaki tentu saya malu, Malu kalo seorang perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Berkalikali saya cari jawaban tapi tidak ada kesesuaian dengan jawaban yang saya terjadi, lalu saya mencoba menelaah ke masa lalu tentang perempuan prempuan yang membesarkan saya.

Dalam ingatan yang samar samar, saya mencoba menelaahnya sebaik mungkin tentang perempuan itu, perempuanperempuan yang telah mengasuh, mendidik, serta membesarkan saya secara bergiliran. Iya, setidaknya ada 5 perempuan hebat yang membuka pikiran saya. saya seperti sedang meriset masa lalu saya sendiri dengan halhal tabu masih saya ingat.

Pertama saya mengingat baik ibu kandung saya. Beliau tidak hanya melahirkan saya saja. Banyak hal yang saya dapati darinya tentang pola pikirnya yang mengutamakan pendidikan yang baik untuk anakanaknya. Saya belajar banyak disini. Bukan itu saja dia juga mengajarkan saya untuk berjuang tentang segala ketidakmungkinan yang bakal terjadi. Dia pintar menabung, memasak dan memutar uang. Meskipun waktu kecil saya banyak terampas karena ia bekerja, tidak mungkin saya mangadili masa lalu itu sepenuhnya oleh pekerjaanya .

Kedua saya juga belajar dari amak (nenek) saya tentang indahnya berbagi yang membuat senyum selalu tampak pada wajah. saya selalu memperhatikan hal itu tentang apa yang beliau berikan kepada teman temanya. Orangnya sering pandang budi kepada orang lain.

Ketiga saya melihat ibu iin tante saya. Dia mengajarkan saya tentang bagaimana menjadi seseorang yang terus mengikuti intuisi, dan menjadi orang yang percaya diri. Saya selalu diingatkan oleh ibu iin tentang masa mudanya habis untuk memomong saya dan mencebok pantat saya ketika masih kecil. Sekarang saya minta ia untuk mencebok dia berdalih pelan ngegas menyuarakan tidak mau melakukanya lagi.

ke empat Uwo (nenek) saya belajar banyak hal tentang bagaimana menciptakan pergaulan dan lingkungan yang baik,tidak hanya itu sabarnya beliaupun sungguh luar biasa, ketekunannya membaca alquran & hadits setelah sholat shubuh terus menerus ia lakukan. sungguh dashyat iman dan ketaqwaan beliau. Ia juga yang banyak membantu saya

kelima Ibuk lina (tante) ia juga memberikan saya tentang bagaimana menjadi orang disiplin dalam belajar. saya beruntung bisa mengenal ibuk lina dan tidak sia sia paman saya menikahi beliau. Pantas saja saya pernah juara dulu. Berkat dia saya tahu ada batasan jam untuk menonton televisi dan jika menjelang ujian kenaikan kelas itu artinya "waktunya mengisi harihari tanpa televisi dan bermain sepeda". 

Sejatinya belum juga saya mendapat jawaban mendalam, saya berniat mengunjungi mereka satu persatu di baratnya pulau sumatera dan menanyakan pertanyanpertanyan yang selalu habat membuat saya termenung.


Komentar